
Sejumlah narapidana mengamuk di Lembaga Pemasyarakatan Klas 2 Palopo, Sulawesi Selatan, Sabtu (14/12) siang. Sebagian gedung ruang tahanan terbakar. Kepala Lapas, Sri Pamuji jadi sasaran pukulan dan beberapa pegawai sempat ditawan napi.
Narapidana sempat menguasai Lapas dari dalam dan tak membiarkan aparat keamanan masuk. Api berkobar dan menghanguskan beberapa ruangan di satu blok tahanan. Meski penyebab kebakaran masih diselidiki, namun diduga itu sengaja dilakukan napi saat mengamuk.
Kepala Bagian Humas Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan, Komisaris Besar Endi Sutendi mengatakan, keributan di dalam Lapas terjadi sekitar pukul delapan pagi. Saat itu, Kepala Lapas Sri Pamuji bersama Kepala Keamanan setempat, Luter Toding Pandung, mengecek ruang tahanan khusus yang dihuni Herman, narapidana kasus pencurian.
Herman ditempatkan di ruangan khusus terpisah dari tempat narapidana lainnya selama dua bulan terakhir. Itu dilakukan karena sebelumnya, ia kerap mengganggu narapidana wanita. Sebelum kejadian, petugas Lapas telah beberapa kali mengecek ruangannya.
Sewaktu Sri membuka pintu ruang tahanan, tiba-tiba Herman melompat dan memukul. Tak hanya itu, dia juga berteriak memanggil rekan-rekannya di luar untuk turut memukul. Situasi pun tak terkendali. "Herman ini yang memprovokasi tahanan lain," kata Endi kepada wartawan.
Saat kejadian, narapidana rata-rata berada di luar ruangan karena gedung-gedung tahanan sedang dicat. Tak lama berselang, api pun terlihat berkobar dari dalam Lapas. Napi disebut menawan dua orang petugas serta tujuh warga pembesuk. Pintu utama ditutup dari dalam, sehingga petugas lain tak dapat masuk.
Polisi yang menurunkan personel tambahan ke lokasi, beberapa kali berupaya bernegosiasi dengan para tahanan namun diacuhkan. Baru pada sekitar pukul dua siang, upaya itu berhasil. Petugas Pemadam Kebakaran pun bisa leluasa mengendalikan api.
Menurut Endi, aparat keamanan berhasil mengumpulkan kembali total 283 narapidana. Untuk berjaga-jaga, dikerahkan 350 personel gabungan Polisi dan TNI. Sedang diselidiki penyebab dan motif kericuhan itu. "Kami masih tunggu laporannya," kata Endi.
Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakat (Lapas) Palopo, Sulawesi Selatan, Abidin Karim menceritakan ihwal kerusuhan yang terjadi. Ia mengaku berada di dekat Kepala Lapas Palopo Tri Pamudji saat terjadinya penganiayaan yang dilakukan napi tindak pidana pencurian motor Riki.
"Tidak benar kalau kalapas menampar," kata Abidin kepada Palopos Pos (JPNN Group), Sabtu (14/12).
Versi Abidin, sekira pukul 09.30 Wita, ia
mendampingi Tri meninjau pembangunan ruangan napi Blok B. Saat tengah
fokus memantau, tiba-tiba dari arah belakang Riki berlari mendekat.
Tangan Riki menggengam batu dan membenturkannya ke kepala bagian
belakang Tri. Tri langsung terkapar dengan berlumuran darah. "Kalapas
juga tidak ditikam," katanya.
Insiden ini kemudian memprovokasi napi
lainnya. Sebagian napi ikut-ikutan melempar ke arah Tri dan Abidin.
Sambil melepas tembakan peringatan, Abidin kemudian menyelamatkan Tri
dan melaporkan kejadian ini ke polisi.
Sesaat kemudian, Kapolsek Wara Utara AKP
Simon tiba di TKP. Karena situasi mulai tidak kondusif, Abidin dan Simon
memilih mundur sambil menunggu tambahan personel aparat sekira pukul
09. 45 WITA.
Pukul 10.00 WITA, api sudah membubung.
Napi sudah mulai marah dan membakar gedung. Ruangan pertama yang dibakar
adalah ruangan besuk.
Dalam persitiwa ini, ada delapan bangunan
yang terbakar. Yakni, gudang senjata, aula, gudang beras, kantor, ruang
Kalapas, ruang staf, ruang pengamanan, dan ruang besuk.
Pukul 10.15 WITA, aparat Kepolisian dari
Polres Polopo tiba di TKP. Napi melakukan perlawanan dengan melemparkan
batu ke arah aparat dan pemadam kebakaran yang menjinakkan api.
Pukul 13.00 WITA dilakukan negosiasi
dengan para napi setelah api padam. Yang diduga terlibat kerusuhan
kemudian diisolasi. Ada satu orang yang ditangkap diduga provokator.
"Saat ini sudah mulai kondusif," pungkas Abidin. bayuzenze.blogspot.com



















































